Archive for March, 2006
Kampus saya yang memiliki CyberCampus memang unik. Entah mungkin gaya berfikir orang-orang cyber betul-betul susah dimengerti, atau memang kenyataan bahwa otak mereka telah kacau balau karena setiap hari melihat diagram dan baris-baris code.
Setelah mendapat tugas konyol dari mata kuliah SO-2kali ini saya mendapat tugas yang luar biasa, yaitu disuruh untuk menjelaskan file config oracle dan MENGEPRINT SEMUA ISINYA
Perlu anda ketahui, bahwa file .ora yang menjadi bahan tugas ini berjumlah 14 buah, dengan total baris mencapai ribuan. Dengan font courier new 6 point sekalipun, masih menghabiskan lebih dari 20 halaman.
Pertanyaannya…… APA YANG SAYA DAPAT SETELAH SAYA MENGEPRINT FILE ITU ???
Mata kuliah ini, yaitu Database Administrator memang termasuk dalam jajaran mata kuliah yang berujung kepada sertifikasi OCA, salah satu hal yang menjadi kebanggaan dan bahan iklan kampus saya. Memang mengambil OCA melalui jalur mahasiswa biayanya jauh lebih murah daripada anda menempuh jalur resmi melalui pelatihan. Namun hukum harga menentukan kualitas juga berlaku disini. Selain tugas konyol semacam ini, praktikum DBA kemarin juga boleh dibilang berantakan. Komputer berjalan seperti dinosaurus merangkak, ditambah AC yang rusak pula. Itupun hanya ada beberapa komputer yang Oraclenya dapat berjalan normal…. Mengenaskan bukan ?
Jika tujuannya adalah agar mahasiswa dapat mengerti file config oracle, seharusnya cukup diajarkan bagaimana membaca aliran petunjuk dalam sebuah file config. Karena dengan mengajarkan dasarnya, kita dapat menggunakannya di lain waktu, walau diluar aplikasi Oracle.
Lalu mengapa harus di print ? apakah ybs memiliki relasi dengan pabrik printer, tinta printer, ataukah pabrik kertas ??
Tugas konyol seperti ini bukan merupakan tugas aneh pertama yang diberikan oleh ybs. Semester lalu pada mata kuliah SQL, dia memiliki ide jenius, yakni menerjemahkan buku guide Oracle dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Hmm.. mungkin maksudnya baik, membantu mahasiswa lain yang nilai MK Inggrisnya betul-betul “D”, bukan hasil intimidasi seperti kasus saya. Untungnya, saya tidak kebagian tugas gila tersebut, kalaupun saya kebagian, paling-paling saya bayar translator untuk menerjemahkan; karena kesibukan saya masih banyak dan lebih penting daripada mengerjakan tugas konyol seperti itu.
Jika keadaan seperti ini terus, rasanya bukan hal yang mustahil apabila saya meninggalkan kampus ini di semester depan. Karena kualitas pengajaran yang saya dapatkan betul-betul berseberangan dengan yang saya inginkan.
March 28th, 2006
Setelah beberapa bulan vakum, rekan saya kembali mengupdate blognya dengan post berjudul Back with More Complain
Masalah ini merupakan masalah yang cukup menggelikan, dimana saya dan rekan saya mendapatkan nilai D pada mata kuliah Business English I. Tentu tidak etis jika saya sebutkan nama dosen saya di blog ini:D
Memang saya akui kalau kemampuan bahasa Inggris saya tidaklah superior, namun demikian, saya berhasil berbisnis dengan beberapa orang luar negeri, diantaranya dari Cyprus (Northfinance), Switzerland (Neuimex), India (eFXco), US (InterbankFX) dan Malaysia (ada teman disana :D).
Bukannya menyombongkan diri, namun saya rasa tidak sepantasnya saya mendapatkan nilai D untuk mata kuliah Inggris, apalagi jika saya rinci nilai saya adalah sebagai berikut :
Ujian Tengah Semester : 80
Ujian Akhir Semester : 83
Nilai lain-lain : 0 (setelah dicek di komputer terminal di kampus, ternyata ini adalah poin untuk “NILAI LAIN-LAIN”)
Dengan presentase sebesar 30%, nilai lain-lain ini mampu membuat nilai akhir saya menjadi 49 ! Dan voila, i got D.
Saya betul-betul tidak mengerti apa alasan si dosen memberikan saya nilai D. Saya terhitung tidak masuk 4x (atau 5x), 3x diantaranya berturut-turut pada 3 minggu terakhir dimana acara perkuliahannya adalah latihan untuk UAS dan sudah tidak dihitung presensi oleh pihak kampus.
Sebagai manusia yang normal, tentu saya memilih untuk jalan-jalan ke mall, atau online di rumah untuk mengurusi bisnis saya daripada menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang berguna (latihan untuk UAS). Toh tanpa latihanpun, nilai UAS saya masih 83 dan masuk dalam grade A.
Rekan saya bahkan lebih mengenaskan lagi, dia mendapat nilai 550 untuk test TOEFL yang diadakan kampus saya di awal tahun ajaran. Dan dia adalah salah satu peserta angkatan 2004 dengan nilai tertinggi . Karena kehebatan si dosenlah, maka dia juga mendapatkan nilai D :))
Dari kasus ini, saya pernah mencoba untuk mendiskusikannya dengan pihak yang lebih tinggi (wakil ketua), namun bukannya mendapat pencerahan, saya justru semakin tenggelam =))
Intinya, hal yang bisa saya tangkap adalah, bahwa kampus saya tidak mampu menilai kemampuan mahasiswanya kecuali dengan cara-cara jaman baheula seperti ujian dan quiz. Mungkin bila Linus T (pembuat Linux) mengikuti mata kuliah Sistem Operasi II yang notabene belajar Linux, bisa saja mendapat nilai D karena tidak mengikuti quiz (karena dia lebih suka bekerja membuat Linuxnya :D).
Semoga pengalaman saya ini dapat membantu anda yang akan menempuh jenjang studi di universitas, carilah tau mengenai universitas anda hingga sendetil mungkin, agar anda tidak menyesal kemudian (seperti saya
)
March 26th, 2006
2 hal ini terkadang dihubung-hubungkan banyak orang, Lumrahnya di dalam kurikulum perkuliahan, anda biasanya akan diajarkan mengenai entrepreneurship. Namun kampus pada umumnya, porsinya terlalu kecil. Dalam kampus saya sendiri, mata kuliah ini cuman 2 sks, dari total keseluruhan sekitar 150 sks yang harus ditempuh.
Dengan porsi hanya 2 sks, yang kira2 hanya 1%-2% dari total mata kuliah, maka jangan terlalu berharap anda akan terdidik menjadi enterpreneur. Malahan, anda akan berpotensi menjadi tukang ketimbang menjadi pengusaha.
Adalah merupakan fakta, kalau entrepreneur-entrepreneur sukses baik di dunia ataupun lokal, tidak terlalu bersinar di perkuliahan. Orang terkaya dunia selama 1 dekade terakhirpun, memilih untuk meninggalkan kampus demi mengurusi perusahaannya. Dan sekarang, kampus tersebut sepertinya malah menggunakan serta mengajarkan hal yang dibuat oleh Bill Gates, mantan mahasiswanya. Banyak orang meramalkan linux bakal menggeser Windows, namun saya rasa hal itu sangat sulit sekali terjadi. Saya pribadi memilih mengeluarkan uang beberapa juta untuk membeli Windows asli daripada menggunakan Linux gratis
(di Linux ga bisa main game =)) )
Lihat juga orang-orang yang masuk dalam daftar Forbes lainnya, seperti Paul Allen, Michael Dell hingga Lawrence Ellison (Oracle) juga merupakan orang-orang yang memilih untuk tidak menghabiskan waktu mendengarkan dosen berpidato.
Mengapa mereka bisa sukses tanpa kuliah dan ironisnya banyak sarjana fresh graduate yang menjadi pengangguran ?
Pada umumnya, kebanyakan kampus mengajari kita untuk bertindak sesuai standar yang sangat standar, dimana pada dunia nyata, standar tersebut sangat jarang terjadi. Dalam setiap kuliah berbau perancangan sistem, dosen saya selalu menegaskan bahwa sistem yang berhasil adalah sistem yang telah melalui tahapan-tahapan SDLC, dimana setelah melalui tahapan tersebut seharusnya sistem tidak lagi membawa bug. Namun apakah itu diterapkan pada dunia nyata ?
Dari strategi bisnis, hal tersebut hanyalah akan memberi pekerjaan tambahan serta berpotensi untuk membuang potensial keuntungan. Imagine saja kalau Bill Gates menunggu Windows terbebas dari bug untuk dirilis, maka dia tidak akan duduk di singgasana Forbes selama 1 dekade terakhir.
Dia lebih memilih untuk merilis setengah-setengah, mengeluarkan service pack dan fix-fix. Yang terpenting adalah program terjual dulu. Kalau dia bekerja menurut teori yang ada di buku, anda tidak akan menjumpai kata-kata “service pack” di dunia ini, apalagi patch-patch kecil yang terdapat pada knowledge base Microsoft yang jumlahnya hampir menyamai banyaknya hutang Indonesia…
Dalam perkuliahan, kita juga dituntut untuk membuat proposal yang baik dan benar (kebanyakan dosen berkata begitu), padahal dalam dunia nyata, tingkat kebeneran proposal itu tidak pernah berada di peringkat teratas. Ada banyak hal yang lebih penting, yaitu koneksi, wawasan, dan tentu saja uang-uang untuk membayar pungli-pungli andaikata kita berbicara mengenai negara kita. Proposal biasanya hanya digunakan sebagai pelengkap saja, dan disajikan seinformatif mungkin menurut penulisnya.
Ironisnya lagi, kebanyakan mahasiswa/i yang memiliki IP tinggi cenderung menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan buku. Bahkan saya memiliki rekan seangkatan yang mendapat nilai IP 4 menuliskan spesifikasi komputer XT jaman purba pada tugas proposal mereka. Spesifikasi tersebut persis sama dengan apa yang dituliskan di buku.
Mereka yang sangat rajin kuliah, sangat senang sekali untuk belajar, belajar segala sesuatu yang mereka belum tahu apa gunanya. Itulah yang menyebabkan mereka terkadang gagal bersaing dengan orang-orang lepas yang lebih dulu telah beradaptasi dengan realita. Orang-orang praktis biasanya mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan saja, dengan begitu resource mereka dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih berguna.
Saya sempat ingat dengan mata kuliah Jaringan Komputer, dimana para mahasiswa diwajibkan untuk menghafalkan 7 OSI Layer, yang katanya sangat penting. Setelah pulang kuliah, saya sempat chit chat dengan rekan saya via messenger. Dia adalah pemilik ISP yang sekarang sedang saya gunakan, dan memiliki setumpuk pengalaman dalam pembuatan jaringan khususnya ISP. Ternyata….. dia bahkan tidak tahu apa itu OSI Layer :-” Dan kalau memang dipikir, apa butuh ya kita hafal OSI Layer :-/
Dari ilustrasi diatas, saya menarik kesimpulan bahwa kuliah memang tidak terlalu memberi manfaat selain ilmu yang mungkin berguna kelak. Cerita orang-orang yang telah lulus pun terkadang mengatakan bahwa yang dipelajari di kuliah biasanya juga tidak terlalu digunakan di dunia kerja. Hal ini menciptakan pertanyaan baru.. untuk apa kuliah ??
Jawaban dari pertanyaan itu pasti berbeda tiap orangnya. Saya sendiri kuliah karena ingin mendapatkan gelar, yang nantinya mungkin diperlukan kalau bertemu dengan calon mertua. Tidak lebih. Kalau saya bisa membeli gelar tersebut, jujur saja mending saya beli, karena bagi saya, kuliah saya sangat menghabiskan waktu. Dan waktu tidak bisa dibeli dengan uang.
Mungkin dari sekian kampus, kampus yang menurut saya agak menjanjikan adalah Universitas Ciputra (http://www.ciputra.ac.id) yang motonya adalah mendidik entrepreneur muda. Sayang sekali mereka belum menerima transfer dari kampus lain, padahal sudah bersiap-siap untuk hijrah ke sana :((
March 20th, 2006