Posts filed under 'My Opinion'
In some forex forums and mailing lists, there was a hot discussion few weeks ago about a system called USS. This system created by Malaysian Ustad. And to get this system, you must pay around 200$ for live seminar.
Few days ago, at WSS chatroom, somebody invited me to join the seminar. And of course, I want to see the portofolio first. Who want to buy a product without knowing its quality..
He and lot of USS alumnus claimed they got profit around 60 pips every day, on only one pair, EURUSD. Well, If we do a kindergarten math, 60 pips daily = 1200 pips per month per on average. If I trade 1 mini lot using 1k, then i can double my account every month. Well, Math is always interesting in forex.
Someday, EURUSD moves only 30-50 pips. And they still can catch 60 pips profit. Sounds incredible huh…
Well, please see the image below : (click to enlarge)

It is a trading history, which using USS strategy. Well, absolutely it is more than 60 pips profit. But after looking at date & time, I found that 60 pips is a scammer’s advertising fave.
At around 22:04 Marketiva time, he opened 7 shorts and 6 longs. He calculated the pips from every position. All short positions opened at around same price, why doesn’t he open 1 short position with 2800 quantities at Marketiva (400 each x 7 positions)… and the profit just 5 pips instead 29 pips…
I guess they want to trap the newbie. While newbie see 60 pips profit everday, their eyes suddenly become green and dollars symbol appears on. C’mon guys, open your eyes… it just 5 pips !.
With same calculation method, I can say that I got 200 pips profit on a single news trade
Here is another YM conference chat archieve. Green is me, red is USS alumnus, grey is other people.

Basically, this system seems do open a stop order, both for buy and sell 5 pips away from current price with 5 pips TP. And if a position get a big floating, it will hedged, probably with martingale or its variant.
Well, at the moment I have no interest to this system, except someone gives me it for free, I’ll learn and explore it. But if someone get listed on Forbes from this system, then surely I’ll get it for 200 bucks :D.
July 13th, 2007
Long time i haven’t updated this blog, neither login into wordpress dashboard. While at last few days i came to the dashboard, i got an incoming link from budiwijaya.or.id, and then i click it, and directed to his website with this post at the front page.
It seems my campus held a blog competition, called blogfest. Hmm.. talking about blog, i still remember exactly a lecturer has told me 1-2 years ago that blog is an embarrassing thing, and people who like to write blog doesn’t know what is “shy”
So according to his theory, currently my campus did something very very shameful ! =))
Ok, now about the competition… after read several blogs like this and this, I know that my campus really did a mistake which probably they didn’t want to. The champion of that competition is a copy-paster
Talking about copy-paste, i suddenly remember that one of my lecturer is very expert on detecting copy-paste. He told me (us in the classroom) that he rejected an article made by someone because it was a plagiarism (and he was very proud because he can detect it).
I wonder why doesn’t he become one of the jury, so that accident would not happen… 
May 27th, 2007
At the Cashflow Quadrant, there is “I” quandrant which means an investor. You may become an investor, and invest your money on one or some investment vehicles. It can be property, precious metal such as gold, stock, forex, hyip, time-deposit, energy (oil), etc.
Every investment should have a risk at certain level. It can be very high (not recommended for people whose has heart problem), or very low, but there is always. There is no investment without risk. Profit guarantee & no risk blah blah that usually stated at hyip website is a truly bullshit. If there is no risk involved at any kind of investment, maybe anybody from baby-age until hundreds years old person will become an investor… and who will drive taxi then? Who will clean restaurant table? Everyone will do anything they want with money coming to them everytime.
Every person has different level of risk tolerance. There is people who shocked when he get -500$ floating on a 500000$ forex account. There is also people who can laughing when his equity nearly dead. People who loves to play HYIP, must have a hi-risk tolerance
Well, as an investor, you must decide where and when to invest your money. But I prefer to use diversification strategy. Like oldman said, putting all eggs into one basket is a stupid decision in my eyes. Well, except you don’t have enough money to spread. But if you can’t diversify your money, i would recommend you to cancel your plan to become investor.
Diversify money into several investment vehicles is not a random move. You may calculate it, especially the risk level. If an investment has a big risk, they should offer a better return. If an investment has a big risk and offer low return, just forget it. It is not worth and only spend your time.
I usually spend bigger amount at lower risk area… such as bank’s time-deposit. Indonesia’s interest rate is around 8%-10% anually. It is guaranteed by Bank Indonesia… (for amount under 100 million rupiahs at 2007 (around $10g)). I can say it is a low risk investment if it compared with HYIP for example. So I’ll put bigger amount at time-deposit, and smaller amount at HYIP. If I found something that have a bigger return than HYIP and also have higher risk, I will put smaller amount on it compared than what I put at HYIP.
Most of newbie investor always greedy… especially when they see HYIP for the first time. They see HYIP which offer 2 digit percent daily or hourly, and usually, put most of his money there. And finally… he lost everything. Well… it is normal for newbie… at least, i did quite-same action when i still a newbie.
Everyone has own investment strategy and you may stick with your own rule. Just something that you must remember, don’t put all your money in one area, and don’t invest with amount that you can’t afford to lose 
October 25th, 2006
2 hal ini terkadang dihubung-hubungkan banyak orang, Lumrahnya di dalam kurikulum perkuliahan, anda biasanya akan diajarkan mengenai entrepreneurship. Namun kampus pada umumnya, porsinya terlalu kecil. Dalam kampus saya sendiri, mata kuliah ini cuman 2 sks, dari total keseluruhan sekitar 150 sks yang harus ditempuh.
Dengan porsi hanya 2 sks, yang kira2 hanya 1%-2% dari total mata kuliah, maka jangan terlalu berharap anda akan terdidik menjadi enterpreneur. Malahan, anda akan berpotensi menjadi tukang ketimbang menjadi pengusaha.
Adalah merupakan fakta, kalau entrepreneur-entrepreneur sukses baik di dunia ataupun lokal, tidak terlalu bersinar di perkuliahan. Orang terkaya dunia selama 1 dekade terakhirpun, memilih untuk meninggalkan kampus demi mengurusi perusahaannya. Dan sekarang, kampus tersebut sepertinya malah menggunakan serta mengajarkan hal yang dibuat oleh Bill Gates, mantan mahasiswanya. Banyak orang meramalkan linux bakal menggeser Windows, namun saya rasa hal itu sangat sulit sekali terjadi. Saya pribadi memilih mengeluarkan uang beberapa juta untuk membeli Windows asli daripada menggunakan Linux gratis
(di Linux ga bisa main game =)) )
Lihat juga orang-orang yang masuk dalam daftar Forbes lainnya, seperti Paul Allen, Michael Dell hingga Lawrence Ellison (Oracle) juga merupakan orang-orang yang memilih untuk tidak menghabiskan waktu mendengarkan dosen berpidato.
Mengapa mereka bisa sukses tanpa kuliah dan ironisnya banyak sarjana fresh graduate yang menjadi pengangguran ?
Pada umumnya, kebanyakan kampus mengajari kita untuk bertindak sesuai standar yang sangat standar, dimana pada dunia nyata, standar tersebut sangat jarang terjadi. Dalam setiap kuliah berbau perancangan sistem, dosen saya selalu menegaskan bahwa sistem yang berhasil adalah sistem yang telah melalui tahapan-tahapan SDLC, dimana setelah melalui tahapan tersebut seharusnya sistem tidak lagi membawa bug. Namun apakah itu diterapkan pada dunia nyata ?
Dari strategi bisnis, hal tersebut hanyalah akan memberi pekerjaan tambahan serta berpotensi untuk membuang potensial keuntungan. Imagine saja kalau Bill Gates menunggu Windows terbebas dari bug untuk dirilis, maka dia tidak akan duduk di singgasana Forbes selama 1 dekade terakhir.
Dia lebih memilih untuk merilis setengah-setengah, mengeluarkan service pack dan fix-fix. Yang terpenting adalah program terjual dulu. Kalau dia bekerja menurut teori yang ada di buku, anda tidak akan menjumpai kata-kata “service pack” di dunia ini, apalagi patch-patch kecil yang terdapat pada knowledge base Microsoft yang jumlahnya hampir menyamai banyaknya hutang Indonesia…
Dalam perkuliahan, kita juga dituntut untuk membuat proposal yang baik dan benar (kebanyakan dosen berkata begitu), padahal dalam dunia nyata, tingkat kebeneran proposal itu tidak pernah berada di peringkat teratas. Ada banyak hal yang lebih penting, yaitu koneksi, wawasan, dan tentu saja uang-uang untuk membayar pungli-pungli andaikata kita berbicara mengenai negara kita. Proposal biasanya hanya digunakan sebagai pelengkap saja, dan disajikan seinformatif mungkin menurut penulisnya.
Ironisnya lagi, kebanyakan mahasiswa/i yang memiliki IP tinggi cenderung menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan buku. Bahkan saya memiliki rekan seangkatan yang mendapat nilai IP 4 menuliskan spesifikasi komputer XT jaman purba pada tugas proposal mereka. Spesifikasi tersebut persis sama dengan apa yang dituliskan di buku.
Mereka yang sangat rajin kuliah, sangat senang sekali untuk belajar, belajar segala sesuatu yang mereka belum tahu apa gunanya. Itulah yang menyebabkan mereka terkadang gagal bersaing dengan orang-orang lepas yang lebih dulu telah beradaptasi dengan realita. Orang-orang praktis biasanya mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan saja, dengan begitu resource mereka dapat dialokasikan untuk hal lain yang lebih berguna.
Saya sempat ingat dengan mata kuliah Jaringan Komputer, dimana para mahasiswa diwajibkan untuk menghafalkan 7 OSI Layer, yang katanya sangat penting. Setelah pulang kuliah, saya sempat chit chat dengan rekan saya via messenger. Dia adalah pemilik ISP yang sekarang sedang saya gunakan, dan memiliki setumpuk pengalaman dalam pembuatan jaringan khususnya ISP. Ternyata….. dia bahkan tidak tahu apa itu OSI Layer :-” Dan kalau memang dipikir, apa butuh ya kita hafal OSI Layer :-/
Dari ilustrasi diatas, saya menarik kesimpulan bahwa kuliah memang tidak terlalu memberi manfaat selain ilmu yang mungkin berguna kelak. Cerita orang-orang yang telah lulus pun terkadang mengatakan bahwa yang dipelajari di kuliah biasanya juga tidak terlalu digunakan di dunia kerja. Hal ini menciptakan pertanyaan baru.. untuk apa kuliah ??
Jawaban dari pertanyaan itu pasti berbeda tiap orangnya. Saya sendiri kuliah karena ingin mendapatkan gelar, yang nantinya mungkin diperlukan kalau bertemu dengan calon mertua. Tidak lebih. Kalau saya bisa membeli gelar tersebut, jujur saja mending saya beli, karena bagi saya, kuliah saya sangat menghabiskan waktu. Dan waktu tidak bisa dibeli dengan uang.
Mungkin dari sekian kampus, kampus yang menurut saya agak menjanjikan adalah Universitas Ciputra (http://www.ciputra.ac.id) yang motonya adalah mendidik entrepreneur muda. Sayang sekali mereka belum menerima transfer dari kampus lain, padahal sudah bersiap-siap untuk hijrah ke sana :((
March 20th, 2006
Maspion is one of biggest Indonesian company which founded by Alim Markus. They produce a lot of stuff from rice cooker to air conditioner.
Last 3 days, they has stop working and do a demonstration. They want to get higher salary based on revision of the regional minimum salary which announced by city government in last few weeks.
But after hearing some news through SuaraSurabaya radio, their main prosecition is not “higher salary based on revision of RMS”, but…. they want to get flat salary. They want to get same salary, it means, no different between worker who have better skill or more senior.
I really know (at this time) why are they always become a worker, it was because their brain’s limitation. Imagine a better-skilled worker get same salary with worker with no skill, then president get same salary with minister…
It was incredibly irrational idea, i really don’t know how can they think like that….
February 24th, 2006
Hmm… bagi anda yang tidak mengetahui BEMO, bemo adalah singkatan dari becak bermotor, kendara’an angkutan umum yang biasanya menggunakan mobil Suzuki Cerry. BEMO ini mungkin cuman ada di Surabaya & sekitarnya (mungkin!!), mungkin juga di kota lain juga ada…
Tapi yang jadi masalahnya bukan mobilnya, tapi supirnya. Yap, Supir BEMO bisa dibilang orang brengsek yang sengaja dikirim Lucifer (presiden dunia neraka) ke bumi karena dianggap mengacaukan lalu lintas di dunia/negara neraka…
Mungkin itu adalah “ungkapan terhalus” yang bisa saya tulis di sini, mengingat blog ini tergolong media yang bersifat publik.
Mengapa saya begitu benci pada mereka ? Wah, pertanyaan bodoh jika anda adalah orang surabaya dan sering berlalu-lintas. Tentu anda sudah tahu jawabannya. Ini adalah penyebab-penyebab mengapa saya begitu “!@#$%^&*()” pada sopir BEMO.
1. BEMO suka berhenti tiba-tiba secara sepihak dan terkadang di tengah jalan.
2. BEMO jarang menyalakan lampu di malam hari, biasanya cuma lampu kota yang berwarna kuning tua.
3. Jika Sopir BEMO berhenti di tengah jalan, maka jangan membuang resource dan tenaga dengan menekan tombol klakson di setir anda, karena sama saja anda meneriaki sapi tuli !
4. Faktanya, 8 dari 10 mobil pada jalur rumah saya ke kampus adalah BEMO. Jadi bisa dilogika, jika tidak ada BEMO, maka jalan dari rumah saya ke kampus menjadi lebih singkat, sepi, damai, tentram, santai, dan menyenangkan.
5. BEMO suka membuat macet dengan cara berhenti di sisi kanan dan kiri pada 1 baris, jadi kita tidak bisa lewat.
6. BEMO suka putar balik seenaknya, disaat jalanan macet sekalipun.
7. BEMO suka menerobos dan memotong tanpa aturan, mentang-mentang mobilnya yang butut, tentu saja mobil pribadi saya dan anda-anda semua wajib mengalah. Karena jika mobil kita dicium/tercium BEMO, maka dijamin kita ga bakal dapat ganti rugi.
8. BEMO suka jalan pelan-pelan sekali untuk mencari penumpang bila isinya masih kosong. Jika diklakson, maka pergi ke nomor 3.
9. Sopir BEMO tidak sesuai dengan kebanyakan eksekutif yang berprinsip “time is money”, karena saat mereka diteriaki oleh supir taxi karena berhenti di tengah jalan, mereka hanya jawab “cuman sebentar aja lho berhentinya, sabar donk !!”
10. Sopir BEMO menganggap jalan yang mereka lalui ialah jalan mereka, mungkin saja memang nenek moyang mereka yang memabngun jalan tersebut… (asumsi : nenek moyang mereka tinggal di jaman kerja rodi/romusha dan disuruh untuk membuat jalan..)
11. Sopir BEMO bisa menghipnotis polisi, sehingga tidak kena tilang meski sudah menyetir secara tidak baik dan tidak benar.
12. Dan lain-lain
Untung saja dunia ini tidak seperti game Grand Theft Auto atau sejenisnya, karena jika dunia ini seperti GTA, maka para pelaku bisnis berikut pasti akan kebanjiran order :
1. Jasa pengangkut puing-puing mobil
2. Ambulan
3. Penyewaan kamar mayat
4. Penguburan
5. Instansi yang mengurus surat mobil meledak dan korban kecelakaan
Mengapa ? karena tentunya saya akan menggunakan cheat unlimited ammo dan menghadiahkan tembakan rocket launcher bagi tiap BEMO yang tiba-tiba berhenti di depan mobil saya.
Sayangnya, para pemimpin tidak akan mengalami hal seperti ini, pak presiden saja kalau mau lewat, selalu sendirian di jalan, mana tau dia kalau ada orang-orang brengsek seperti sopir BEMO ?!…
June 11th, 2005
Kampus dimana tempat saya kuliah memiliki sebuah buletin yang diberi nama BBS. BBS adalah kepanjangan dari Buletin Berita Stikom.
Karena saya cukup tertarik dengan jurnalistik, dan memang itu adalah pekerjaan saya saat ini, maka saya cukup memberi perhatian pada media kampus ini.
Kebetulan edisi terakhir, Februari 2005 sudah di publish di situs resmi BBS di http://bbs.stikom.edu. Ada sebuah wacana yang menarik, yaitu “Revolusi Sang Komputer Desktop”, karena saya sering berurusan dengan hardware komputer, maka saya penasaran ingin membaca artikel tersebut.
Saya sih sebetulnya sudah merasa bahwa artikel tersebut pasti banyak “bug”nya, karena lingkungan kampus saya sendiri adalah lingkungan yang lebih mengarah ke IT edukasi dan bisnis, bukan IT product atau periperal. Saya cukup akrab dengan rekan-rekan penulis di BBS tersebut, dan saya tahu betul bahwa pengetahuan mereka soal hardware bisa dibilang kurang.
Setelah membuka http://bbs.stikom.edu/detil.asp?berita=420 saya betul-betul kecewa dengan buletin ini, karena terdapat banyak sekali bug. Disamping bug, ternyata narasumber yang mereka pilih juga (menurut saya) sangat kurang memadai.
Berikut adalah artikelnya dan komentar dari saya :
Revolusi Sang Komputer Desktop
Asep Hermawan, Technical Support Supervisor IT Clinic
Wow….. supervisor men….
Mengamati pesatnya perkembangan teknologi komputer desktop tahun lalu, tahun 2005 ini teknologi komputer juga dipastikan mengalami percepatan yang tak jauh berbeda. Pasalnya, sekitar tiga bulan sekali vendor-vendor hardware komputer selalu melepas produk-produk teknologi terbarunya di pasaran.
Setuju !!
Bahkan dijelaskan Asep Hermawan, Technical Support Supervisor IT Clinic, tahun 2005 ini percepatan teknologi komputer bisa jauh lebih tinggi. Hal ini diakuinya setelah membaca geliat pertumbuhannya menjelang awal-awal Januari 2005 lalu.
Mungkin…
Menurut pengamatan Asep, beberapa vendor hardware tampak melakukan lompatan-lompatan dalam memproduksi perangkat-perangkat kerasnya. Seperti Intel, misalnya. Intel baru saja mengeluarkan prosessor terbarunya, Presscot. Berbeda dengan prosessor intel pendahulunya, Presscot ini menggunakan L Case 2 yang di dalamnya tertanam memory sebesar 1 Mb. Sehingga kecepatan pemrosesan, bisa jauh lebih cepat.
Coba baca ini :
http://www.dvhardware.net/article1919.html
Intel Prescott to be launched on the 3rd of December (2003)
Baru ?? ck…ck… ck…
L Case 2 ?? L2 cache ??
Saya tidak pernah tahu ada spesifikasi mengenai “L Case 2” pada prosesor.
1 Mb : Harusnya 1 MB karena MB=MegaByte, Mb = Megabit; 1 byte = 8 bit.
“Jika biasanya processor Intel hanya menggunakan memory 512 Mb, maka kini intel mengupgrade memory di tiap processornya menjadi 1 Mb. Demikian juga dengan Celeron yang biasa dengan memory 256 Mb, kini mengupgrade standard memory processornya menjadi 512 Mb,” jelasnya pada BBS.
Paragraf kacau, mana ada upgrade dari 512 Mb ke 1 Mb ? Kelihatan sekali bahwa redaktur tidak mengerti teknis.
Dicontohkannya lagi, perubahan berarti juga terjadi pada storage. “Tahun ini, media simpanan hard disk diprediksikan beralih pada tipe-tipe Serial ATA (SATA). Dibanding tipe sebelumnya, Hardisk SATA ini memiliki kecepatan transfer data hingga 150 Mb per detiknya. Ini jauh lebih cepat dibanding hard disk yang biasa kita gunakan,” simpul Asep.
Kenyataannya harddisk SATA dan PATA tidak jauh berbeda dari segi performa…
Tak hanya itu, kabel data pada hard disk SATA ini ukurannya seperti kabel USB, sehingga sirkulasi dalam Casing pun bisa lebih baik. Dari kedua contoh hardware itu, Asep memprediksikan bahwa trend komputer desktop nantinya mengarah pada kualitas kecepatan.
Hmm….. yang ini masih bisa dibilang betul…..
Berdasarkan potensi di pasaran, di tahun ini Asep meramalkan kalau Intel masih menjadi market leader produk prosessor. Karena selama ini cukup terbukti, prosessor Intel memiliki kecepatan yang jauh lebih tinggi dan relatif stabil. Selain itu, sampai saat ni vendor-vendor yang terjun dalam industri prosessor masih sangat sedikit.
Intel memiliki kecepatan jauh lebih tinggi
Wowowow………… tergantung….. dalam bidang apa ? dalam aplikasi game ?? hohoho…… masih kalah dengan AMD FX-55 koq.
Sedangkan untuk perangkat-perangkat keras lainnya, Asep mengaku kesulitan memprediksikan siapa yang bakal menjadi trend setternya. Karena selain variantnya cukup banyak, persaingan teknologi antar vendor sangatlah pekat.
No Comment
Namun sekali lagi, Asep menegaskan jika nantinya pertumbuhan teknologi komputer desktop ini jauh lebih pesat dibanding teknologi notebook. “Selama ini, teknologi komputer selalu mengadopsi teknologi-teknologi komputer desktop. Jadi setelah berhasil mengembangkan teknologi desktop, vendor memikirkan lagi bagaimana ‘memboyong’ teknologi tersebut untuk digunakan notebook. Itu sebabnya, kenapa notebook tidak bisa mengalahkan teknologi yang dimiliki komputer desktop,” jelasnya
Mungkin benar… tapi ada juga teknologi yang dikembangkan di notebook dulu baru dipindah ke desktop. Contohnya ialah prosesor mobile Intel yang akan dibuat versi desktopnya, namun versi desktopnya sudah dual-core.
Namun demikian, Asep meyakini bahwa notebook nantinya tetap diminati. Karena saat ini, komputer mobile ini sudah menjadi lifestyle dari masyarakat kita. Khususnya notebook WiFi, yang memungkinkan penggunanya terkoneksi internet melalui jaringan hotspot.[noe]
Mungkin benar juga……
Ya itulah bug-bug dan keanehan yang sangat memperlihatkan baik narasumber maupun redaktur sendiri memiliki pengetahuan teknis yang kurang. Semoga di edisi-edisi berikutnya kejadian seperti ini tidak terulang lagi…
June 11th, 2005
Tidak bisa dipungkiri, bahwa pendidikan di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah dasar hingga menengah, hingga kuliah sekalipun betul-betul aneh…. Aneh dalam artian tidak ada satu tingkatan pun yang sesuai dengan kehendak saya….. egois memang…
Saat SD, kita diwajibkan untuk mencatat dan menerima apa saja yang diberikan guru. Tiap tahun kita wajib membeli buku (atau meminjam jika ada). Namun buku tulis tetap saja wajib beli.
Jika dipikir-pikir, kita membeli (atau meminjam) buku, dari buku tulis hingga buku paket pelajaran sebetulnya merupakan hal yang pemborosan dan sia-sia. Karena apa ? Ya toh pada ujian dan Ujian Nasional, nantinya buku-buku tersebut harus kita telan isinya, dan setelah lulus, buku-buku tersebut bisa dibilang tidak berguna lagi kecuali untuk bungkus kacang.
Dengan rata-rata belanja buku mencapai 300.000 rupiah / tahun ajaran, maka dari SD hingga SMU Kelas 3, yang mencapai 12 tahun, berarti kita sudah menghabiskan dana 3,6 juta hanya untuk buku saja, yang notabene nanti jadi bungkus kacang…
Keanehan kedua ialah budaya mencatat, dari SD kita diwajibkan memiliki catatan, hingga SMP pun demikian, SMU sudah agak bebas, boleh punya boleh tidak, namun ada juga guru yang memperlakukan anak SMU seperti anak SMP/anak SD, yaitu wajib punya catatan.
Well, dari segi poisitifnya, menurut pakar sih katanya jika kita menyalin / menulis sesuatu maka kita akan ingat sekian persen dari yang kita tulis tersebut.
Tapi dari segi negatifnya, menulis berarti kita membuat calon sampah, yaitu kertas. Jika anda sudah kuliah, maka buku catatan rumus-rumus SMP bisa dibilang tidak ada gunanya lagi dan lagi-lagi akan menjadi bungkus kacang.
Belum lagi dana yang kita keluarkan untuk membeli bolpoin dan alat tulis lainnya, jadi sia-sia kan ?!
Itu sih belum apa-apa dibandingkan dengan tenaga dan perhatian yang kita curahkan saat mencatat.
Fotokopi rasanya solusi yang paling rasional… selain lebih murah, juga lebih menyingkat waktu daripada mencatat. Sehingga waktu guru menerangkan kita bisa mendengarkan dengan seksama.
Lagian biasanya juga ada guru-guru yang sengaja menyuruh kita mengutib kalimat persis sama dari paket ke dalam catatan… Saya tidak habis pikir, terus buat apa kita beli buku paket ?
Saat sekolah dulu saya memang termasuk siswa yang malas mencatat dan gemar fotokopi, dan nyatanya saya jauh lebih nganggur di kelas dan nilai yang saya dapatkan juga tidak jelek (10 besar)…
Guru yang demokratis ialah guru yang memberi kebebasan muridnya, mau mencatat atau tidak yang terpenting ialah mengerti tentang materi tersebut.
Saya juga memiliki pengalaman yang betul-betul mengesalkan. Salah satu guru saya dahulu waktu SMU, betul-betul hobby mencatat. Catatan ialah nilai tugas. Dan catatan yang dia berikan termasuk sangat panjang dibanding dengan pelajaran lain. Kebetulan pelajarannya ialah Sejarah.
Dia selalu menggunakan OHP untuk menampilkan transparansi, nah kita sebagai siswa akan berubah menjadi mesin scanner yang siap menyalin isi transparan tersebut ke catatan. Suatu ketika terjadi materi tidak selesai padahal sudah tidak ada pertemuan lagi (mendekati ujian). Maka dia memutuskan untuk memfotocopy transparansinya. Buruknya, fotokopi tersebut nantinya disalin ke catatan.
Well, karena saya termasuk siswa yang berego tinggi, maka jelas saja saya tidak menyalin fotokopi tersebut ke catatan. Kalau sudah fotokopi, lalu disalin lagi ke catatan.. for what ? Saya sampai menduga bahwa dia punya perusahaan alat tulis…
Itu adalah pengalaman buruk saya saat SMU, moga-moga anda tidak senasib dengan saya bertemu dengan guru yang aneh-aneh.
Larangan penggunaan gadget
Keanehan lain selain mengenai catatan dan buku ialah urusan dengan teknologi. Teknologi dibuat untuk memudahkan manusia. Dan untuk “mudah”, tentu kita harus mampu menggunakan teknologi bukan ?
Namun sangat sedikit sekolah yang sudah menggunakan teknologi, bahkan beberapa sekolah malah “menghambat” penggunaan teknologi dengan melarang siswanya membawa gadget/ponsel.
Padahal mencatat jadwal ulangan di ponsel/gadget jauh lebih rapi dan aman dari hilang daripada kita mencatat di secarik kertas.
Dengan gadget/ponsel juga paling tidak kita terhubung dengan dunia, banyak ilmu yang bisa kita dapatkan dari internet. selain itu, tidak terlepas dari fungsi ponsel yaitu untuk menelepon.
Alasan yang banyak dipakai dalam kasus ini ialah ponsel yang mengganggu pelajaran… Untuk masalah tersebut, sebetulnya tergantung pengguna juga. Jika ponsel/gadget digunakan dengan semestinya dengan memperhatikan tata krama yang ada, maka tidak akan mengganggu pelajaran. Dari sejak saya pertama kali membawa ponsel ke sekolah hingga kuliah sekarang, tidak pernah sekalipun ponsel saya berdering di area sekolah/kampus.
Namun ada dan banyak juga putra-putri orang kaya yang menjelma menjadi “bintang iklan” dengan membawa dan memamerkan ponsel terbaru mereka yang harganya mungkin selangit bagi kaum tertentu.
Kembali ke fungsi alat-alat tersebut, jika difungsikan dengan baik, maka alat tersebut akan membantu pelajaran, bukannya menggnaggu. Namun sayangnya pihak sekolah biasanya mengeneralisasi bahwa membawa alat-alat tersebut akan membahayakan proses belajar mengajar, sehingga kaum yang tahu cara menggunakan gadget/ponsel jadi tidak nyaman berada di sekolah.
Sedikit banyak, hal tersebut akan menghambat penggunaan teknologi, dan akan memabawa bangsa kita yang kebanyakan dihuni orang-orang gaptek akan lebih gaptek lagi…
Pelajaran komputer : Pengacauan Standar Web
Beberapa sekolah telah mengajarkan web-design sederhana saat SMU. Termasuk sekolah saya dan beberapa teman saya. Bagus memang, mereka mendidik para webmaster muda. Setidaknya para siswa memiliki ketrampilan dalam membuat web.
Namun ada hal crucial yang mereka abaikan, yaitu standarisasi w3c.
Dalam SMU dulu, kita tidak akan diajarkan dan dikenalkan dengan tipe-tipe dokumen, seperti HTML 4.01 Strict, HTML 4.01 Transitional, XHTML, dan lain-lain. Markup-pun diajarkan seadanya dan jauh dari standar w3c.
Akibatnya ? cukup banyak web designer Indonesia yang harus belajar dan mengubah kebiasaan mereka untuk menyesuaikan dengan standar W3c. Salah satunya adalah saya.
Dalam w3c, setiap dokumen harus diberi Doctype yang menjelaskan jenis markup dokumen tersebut, lalu juga harus ada encoding yang menjelaskan sistem karakter yang digunakan di halaman tersebut.
Oleh sebab itu jangan heran kalau kebanyakan situs pendidikan di Indonesia, juga tidak lolos validasi.
Ini contoh-contoh situs yang saya coba validasi halaman indexnya :
www.stikom.edu : 19 error, tidak ada Doctype
www.petra.ac.id : 16 error
www.binus.ac.id : 70 error, tidak ada Doctype
www.ubaya.ac.id : 116 error, tidak ada Doctype
Berbeda dengan jika saya mencoba Oxford University
www.ox.ac.uk : “This Page Is Valid HTML 4.01 Strict!”
Itulah akibatnya jika kita “salah dari kecil”… Sampai-sampai situs universitaspun masih ada error segitu banyak… Padahal keempat universitas tersebut semuanya memiliki jurusan informatika.
Itulah opini saya mengenai betapa anehnya pendidikan di negara kita ini, anda mau setuju atau tidak setuju dengan opini saya itu urusan anda
Yang jelas saya betul-betul berharap pendidikan di negara kita dapat meningkat seiring dengan kenaikkan harga BBM… Karena saya sudah lumayan lelah jika harus berurusan orang “gaptek”……
June 11th, 2005
Meski seumur hidup sepertinya saya tidak akan menjadi seorang presiden, namun tidak ada salahnya kalau saya berandai-andai.
Nah, sekarang saya akan coba menuliskan pemikiran, ide, tindakan, atau segala hal yang terjadi jika seandainya saya menjadi presiden (presiden Indonesia)… Sebagian mungkin masuk akal, sebagian mungkin tidak masuk akal, namun sekali lagi saya bilang, “seandainya”. Jadi sebetulnya tidak perlu dipikirkan tingkat rasionalnya…..
Jika ada pemimpin negara yang mau menggunakan ide-ide saya ya silakan saja, tapi tolong negosiasi dulu dengan saya, jangan asal comot saja. Karena untuk ngetik blog ini, saya secara tidak langsung mengeluarkan duid, untuk bayar listrik komputer, bayar biaya internet, juga snack yang mencegah perut keroncongan… hehehe……..
Ini adalah hal-hal yang mungkin terjadi andai saya menjadi presiden… Namun berhubung saya tidak akan pernah jadi presiden, jadi ya anggap saja ini angan-angan saya yang mungkin tidak akan terjadi…
1. Pemangkasan Birokrasi
Kita selalu berpikiran negatif tentang bisnis jaringan (sejenis MLM, Binary, dll), padahal ada sisi positif yang bisa kita ambil. Bisnis jaringan memperpendek jalur distribusi produk hingga biaya yang seharusnya habis untuk distribusi, kini diberikan pada anggota. Dengan kata lain, barang akan lebih mudah dan cepat berjalan dari produsen ke konsumen.
Sama halnya dengan negara, proses birokrasi yang semakin rumit dan panjang akan menyebabkan kita sebagai warga negara harus mengeluarkan uang-uang ekstra untuk memenuhi kantong petugas. Birokrasi yang rumit inilah juga yang memicu adanya bisnis calo-calo.
Pengalaman saya membuat SIM, saya harus menunggu 1 jam hanya untuk ngecap jari dan tanda-tangan… itu sudah menggunakan calo. Mana ada eksekutif super sibuk yang mau merelakan waktu 1 jam demi hal seperti itu…
Ya kalau kursi di ruang tunggu kantor samsat itu kursi DaVinci yang harganya 50 juta, mungkin saya akan setiap hari memperpanjang SIM hahaha…..
Tapi kenyataannya, suasana di kantor samsat kurang nyaman, karena ramai, agak kotor, kursi ga nyaman, ga ada AC, dan sebagainya……
Jika perlu, proses registrasi ( pengisian formulir ) dilakukan dengan sistem IT. Kita hanya perlu pergi ke kantor untuk foto, cap jari, dan tanda tangan. Dengan begitu kita dapat menghemat penggunakan “manusia” di sebuah birokrasi. Mengurangi “manusia” di birokrasi otomatis mengurangi potensi KKN, karena komputer selalu bekerja tegas, dan tidak mengenal kata “KKN” hehe….
Dampaknya mungkin banyak yang di PHK…. Ya tidak jadi penerima formulir namun jadi teknisi IT kan juga pekerjaan….. Jika tidak bisa komputer…. Ya pergi aja ke desa, ngurus sawah atau kebun hehe….. Jaman gini masa ga bisa komputer… payah ah….
2. Pemerataan internet di semua tempat
Tidak bisa dipungkiri bahwa jika anda tidak tinggal di tengah kota besar, maka mendapatkan jaringan internet yang “layak” dipakai adalah hal yang nyaris mustahil. Sebagai informasi, bandwidth international Indonesia itu 1,2 Gbps. Dibagi dengan 200 juta penduduk Indonesia, anggap saja hanya 50% yang menggunakan internet, maka 1 orang akan mendapat jatah bandwidth 1.200.000.000 / 100.000.000 = 12 bps.
Ya…… 12 bps. Untuk mendownload file 1 MB dengan 12 bps dibutuhkan waktu kira-kira 185 jam.
Sekarang kurang lebih ada 5% orang Indonesia yang menggunakan internet. Maka 5% = 10.000.000 penduduk.
Berarti bandwidth rata-rata untuk setiap penduduk ialah 24 bps.
Buruk sekali bukan ? Ya sudah menjadi ketentuan alam bahwa Indonesia punya banyak sekali penduduk, sedangkan harga bandwidth juga begitu mahal. Namun tanpa internet, saya jamin bangsa ini akan jalan ditempat. Coba anda perhatikan teman-teman anda, pola pikir, pengetahuan, dan kemampuan dari mereka yang sering membuka internet dan jarang membuka internet pasti akan berbeda.
Bisa dibilang internet sudah masuk ke dalam kebutuhan pokok. Namun apakah kita mampu membeli lebih banyak bandwidth ? Padahal dengan bandwidth sekarang saja Indonesia harus mengeluarkan uang sejumlah Rp. 450 milyar untuk biaya tersebut…..
Solusinya ada di nomor. 3
Prinsipnya internet harus ada di mana-mana, di ruang tunggu dokter sekalipun disarankan ada wi-fi atau terminal untuk internet. Jadi bagi para eksekutif, mereka tidak sampai ketinggalan informasi disaat mereka melakukan pekerjaan “menunggu”….
3. Legalkan sesuatu yang ilegal…… dengan pajak tinggi tentunya
Hal-hal negatif seperti rokok harusnya ditarik pajak setinggi mungkin. Juga usaha-usaha ilegal yang mencetak uang seperti casino, tidak ada salahnya dilegalkan. Bangun saja casino di sebuah pulau…. beres kan. Dan jangan lupa, pajaknya ditarik setinggi mungkin.
Untuk apa duid hasil pajak hal-hal tersebut…. untuk membangun bangsa, membeli bandwidth internet, pendidikan, dan lain-lain
4. Game = pencetak uang
Kita harus menyadari bahwa industri game merupakan industri yang berprospek. Semua orang juga tahu kalau perusahaan game Electronic Arts lebih mapan ketimbang IPTN kebanggaan bangsa yang hampir (atau sudah ?) bangkrut.
Mengapa Indonesia tidak membuat saja IGI ? Industri Game Indonesia ?
Tapi ingat, jangan menjual game anda di Indonesia, karena mubazir, jual saja di Eropa atau Amerika dengan catatan, game tersebut memiliki kualitas yang comparable dengan game-game international…. bukan game-game seperti “Kartu Kembar Multi Bahasa” buatan pak David dan kawan-kawan. Meski ada bahasa Palembang, Sunda, atau apalah…. Tapi apakah orang yang ngerti bahasa tersebut tertarik membeli game kartu tersebut ?!. Dari segi komersil, game dengan bahasa Inggris tetap lebih menguntungkan.
Atlet-atlet kita banyak yang keok di kejuaraan international ? Mengapa tidak mencoba dalam bidang game ? Bina atlet-atlet E-Sport muda dan kirim mereka ke lomba-lomba seperti World Cyber Game. Tidak menutup kemungkinan kan mereka bisa menang ?
Buang jauh-jauh bahwa game itu merusak anak kecil, penyebab kebodohan, merusak generasi bangsa, penyebab kemalasan dan seterusnya. Itu hanya statement yang dilontarkan orang-orang yang sebetulnya menjadi penyebab kekacauan tersebut….
5. Divisi khusus dari berbagai komunitas
Disamping menteri yang membantu saya, saya akan membuat divisi / kelompok khusus yang berisi wakil-wakil dari komunitas yang ada di Indonesia. Dari komunitas penggemar bola, mobil, motor, game, overclock, Linux, Windows, Web, hacker, dan lain-lain. Jadi setiap ada keputusan yang saya ambil, saya bisa mendapat masukan dari kacamata orang yang memiliki interest yang sama dengan yang ada di divisi tersebut.
Contoh : kenaikan BBM, kira-kira gimana tanggapan dari komunitas overclocker ?
Makin banyak masukan akan makin baik.
6. Mata-mata untuk mengawasi jalannya pemerintahan
Tentu saja ada agency mata-mata yang terebar di berbagai sudut kota dan desa. Entah itu pura-pura melanggar lalu lintas lah, pura-pura menyogok petugas lah… ntar kan ketahuan mana petugas busuk dan mana petugas yang betul-betul sip !
7. Pembenahan lalu lintas
Macet + banjir = nightmare. Itu adalah rumus menyetir mobil (versi saya)
Jika macetnya karena banyak mobil pribadi, ya kita harus mengoptimalkan transportasi umum. Bus, atau trem, atau sejenisnya. Dan pastikan fasilitas umum tersebut betul-betul enak dinikmati semua kalangan, dari kalangan orang desa hingga eksekutif.
Jangan di dalam transportasi umum malah ada pengamen, penjambret, dll…. Mana ada yang mau naik ?! Dan akibatnya…. Ya jalan jadi macet…..
Kalau diluar pusat kota terutama di Surabaya…….. penyebab utama macet ialah “BEMO” !!!
8 dari 10 kendaraan di jalur rumah saya ke kampus adalah angkutan kota. Anda tahu kan sifat khas angkot…… jalan pelan-pelan, jalan-berhenti seenaknya, putar balik seenaknya padahal macet banget…. Pokoknya mereka bertindak seolah-olah mereka yang punya jalan tersebut.
Saya sih mengeluarkan peraturan simpel. 1x melanggar : denda, 2x melanggar SIM dicabut sebulan, 3x melanggar, BEMOnya jadi besi tua !. Melanggar dalam arti disini ialah membuat kacau seperti yang saya sebutkan diatas.
Bagaimana supaya tahu ada BEMO yang melanggar…… tugas spy donk hehe……
8. Presiden harus berkomunitas
Yap, buat forum, blog, talk show setiap minggu… pokoknya harus dekat dengan rakyat. Bila perlu bawa gadget yang bisa menampung 10 nomor telepon, jadi bisa di sms sama warga negaranya….
9. E-everything
Segala sesuatu yang bisa diubah menjadi komputerisasi harus diubah. Mulai dari pemerintahan hingga membayar tagihan sampah, semuanya bisa dilakukan via internet, everytime, everywhere !
Bagaimana kalau banyak manusia nganggur ?!
Latih mereka jadi tenaga yang profesional. Kirim mereka ke luar negri tapi jangan jadi babu atau kacung. Minim jadi kabag atau manajer lah….. Seperti orang India yang banyak bekerja di M$.
10. Belajar yang santai
Pendidikan di Indonesia ini terlalu memforsir waktu, tenaga, dan otak. Akibatnya, banyak siswa yang malas belajar….
Buat pendidikan lebih santai, arahkan ke spesialisasi, bukan generalisasi. Asah bakat dan minat siswa, jangan semua materi dijejalkan ke siswa. Kecuali kalau ada harddisk yang bisa dipasangkan ke otak….
11. Semboyan-semboyan yang membodohi
Seperti Hemat pangkal Kaya : Sehemat apapun kalau tanpa rejeki, usaha, kecerdasan dipadu dengan kelicikan dalam mencari uang, anda tidak bakalan kaya.
Rajin pangkal Pandai… : Serajin apapun anda jika IQ tidak mendukung, tidak akan pandai… Mungkin lebih tepat “Rajin pangkal Disayang Bos”
Pelan-pelan asal selamat : Semboyan ini berpotensi menyebabkan prosesor-prosesor keluaran baru tidak laku, karena lebih baik lambat….. asal selamat ( dari kemiskinan…… ) hehehe……… Harusnya dikoreksi menjadi “Cepat dan harus Selamat”
12. Strategi Kompetitif
Negara saya harus punya satu atau banyak hal yang bisa dibanggakan dan dijadikan “power” untuk “menguasai” negara lain. Indonesia kebetulan kaya akan SDA. Olah sendiri SDA kita, dan jual dengan harga kompetitif (kita kan produsen besar)…
Minyak, gas alam, dll itu jual dengan harga mahal…….. biar negara kita kaya. Jangan biarkan orang-orang asing mengutak-atik SDA kita.
Pokoknya negara kita harus punya nilai lebih yang positif, sehingga kita menjadi negara terpandang di dunia……
13. Gaul dengan segala bangsa
Gerakan Anti-Amerika……. Bullshit lah, habis demo anti Amerika terus makan di McD atau Kentucky ya sama aja lah…….
Bergaul dengan semua bangsa….. ga ada ruginya. Buat apa anti bangsa ini itu, kecuali kalau memang bangsa tersebut bermasalah seperti Malaysia yang mau rebutan pulau…..
14. Penegasan mekanisme dan sistem kerja
Jadi prosedur segala sesuatu harus standar, seragam, dan dijalankan dengan tegas. Tidak ada KKN dan sejenisnya……..
15. Hukuman bagi koruptor
Adalah menyumbangkan 90% dari seluruh hartanya untuk negara (urunan bayar utang Indonesia)….
16. Pajak masuk = 0 %
Biar kita bisa menikmati barang-barang canggih dari luar negeri. Kalau tidak, nanti kita malah ketinggalan teknologi.
Kalau semua orang mampu beli komputer, maka akan semakin banyak yang melek teknologi dan akan menimbulkan efek positif bagi bangsa ini……
17. Desentralisasi
Sistem negara bagian juga bisa dipertimbangkan. Setidaknya jika gubernur masing-masing negara bagian berhasil maka negara juga makmur.
Kalau semua diatur pusat, resikonya kalau pusat ada masalah, sampai ke ujung-ujung juga akan kena masalah.
Desentralisasi akan membuat tiap negara bagian berlomba-lomba menjadi yang terbaik, membangun gedung-gedung pencakar langit, infrastruktur teknologi yang canggih, dan lain-lain.
18. Pekan Game Nasional
Mirip PON, hanya saja cabang olahraga diganti dengan Game….
Wow…………….. 18 saja deh, karena tangan saya udah pegal dan saya udah ngantuk……. Lagian ini kan cuman berandai-andai…. Ntar saya lanjutkan andai-andainya di mimpi saja hehehe………..
June 11th, 2005